Lirik Lagu Sinopsis Film Gaya Hidup
Blackberry LG Mobile Nokia Samsung Sony Ericsson
Klasemen L.Italia Klasemen L.Inggris Jadwal Liga Italia Jadwal Liga Inggris
Resto Enak di Jakarta Resto Romantis di Jkt Hokben Delivery Bakmi GM Delivery PHD - Pizza Hut

Free $25

Minggu, 16 Januari 2011 | 08.51 | 0 Comments

tataran linguistik bagian fonologi


Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan

membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi terbentuk dari kata fon = bunyi

dan logi = ilmu.


Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi:


1. Fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa

memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda

makna atau tidak.


2. Fonemik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan

memperhatikan fungsi bunyi tesebut sebagai pembeda.


4.1 FONETIK


adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan

apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.


Menurut terjadinya bunyi bahasa itu, fonetik dibedakan menjadi :


1. Fonetik Artikularis / Fonetik Organis / Fonetik Fisiologis

Mempelajari bagaimana alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan

bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.


2. Fonetik Akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau feomena alam.


3. Fonetik Auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga

kita.


4.1.1 Alat Ucap


Nama-nama alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa :


1. Paru-paru (lung)

2. Batang tenggorok (trachea)

3. Pangkal tenggorok (larynx)

4. Pita suara (vocal cord)

5. Krikoid (cricoid)

6. Tiroid (thyroid) atau lekum

7. Aritenoid (arythenoid)

8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)

9. Epiglotis (epiglottis)

10. Akar lidah (root of the tongue)

11. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)

12. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)

13. Daun lidah (blade of the tongue, laminum)

14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)

15. Anak tekak (uvula)

16. Langit-langit linak (soft palate, velum)

17. Langit-langit keras (hard palate, palatum)

18. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)

19. Gigi atas (upper teeth, dentum)

20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)

21. Bibir atas (upper lip, labium)

22. Bibir bawah (lower lip, labium)

23. Mulut (mouth)

24. Rongga mulut (oral cavity)

25. Rongga hidung (nasal cavity)


4.1.2 Proses Fonasi


Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paruparu

melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita

suara yang harus berada dalam posisi terbuka,melalui rongga mulut atau rongga hidung,

udara diteruskan ke udara bebas.


4.1.3 Tulisan Fonetik


Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin, yang ditambah

dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu.


4.1.4 Klasifikasi Bunyi


Bunyi bahasa dibedakan atas vocal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vocal dan

konsonan adalah arus udara dalm pembentukan bunyi vocal, setelah melewati pita suara,

tidak mendapat hambatan apa-apa, sedangkan pembentukan bunyi konsonan, arus udara

itu masih mendapat hambatan atau gangguan.


4.1.4.1 Klasifikasi Vokal


Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut, vocal-vokal itu diberi nama :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vokal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar

[o] adalah vokal belakang tengah bundar

[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar


4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap


Karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan

bagian akhirnya tidak sama. Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya,

Diftong dibedakan menjadi :


1. Diftong niak, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi

yang kedua.

2. Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi

kedua.


4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan


Dibrdakan berdasarkan 3 patokan / criteria :


1. Berdasarkan posisi pita suara :

a. Bunyi bersuara, apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga

terjadi getaran pada pita suara.

b. Bunyi tidak bersuara, apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga

tidak ada getyaran pada pita suara.


2. Berdasarkan tempat artikulasinya :

a. Bilabial, konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah

merapat pada bibir atas.bunyi [b], [p], dan [m].

b. Labiodental, konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas,

gigi bawah merapat pada bibir atas, bunyi [f] dan [v].

c. Laminoalveolar, konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun

lidah menempel pada gusi, bunyi [t] dan [d].

d. Dorsovelar, konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan vlum langitlangit

lunak, bunyi [k] dan [g].


3. Berdasarkan cara artikulasinya :

a. Hambat (letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], dan [g].

b. Geseran atau frikatif, bunyi [f], [s], dan [z].

c. Paduan atau frikatif, bunyi [c] dan [j].

d. Sengauan atau nasal, bunyi [m], [n], dan [η].

e. Getaran atau trill, bunyi [r].

f. Sampingan atau lateral, bunyi [l].

g. Hampiran atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].


4.1.5 Unsur Suprasegmental


Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselangseling

dengan jeda singkat atau agak singklat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi

rendah bunyi, panjang pendek bunyi, ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut

bunyi segmental.

4.1.5.1 Tekanan atau Stres


Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.


4.1.5.2 Nada atau Pitch


Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi.


4.1.5.3 Jeda atau Persendian


Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.


1. Jeda antar kata, diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase, diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat, diberi tanda ( # )


4.1.6 Silabel


Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau

runtutan bunyi ujaran. Satu silabel meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan

atau lebih.


4.2 FONEMIK


adalah bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Objek

penelitian fonemik adalah fonem.


4.2.1 Identifikasi Fonem


Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonematau bukan, kita harus mencari

sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu

membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan bahasa pertama, kalau

kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, berarti bunyi tersebut adalah fonem.


4.2.2 Alofon


adalah dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Alofon-alofon dari sebuah

fonem memiliki kemiripan fonetis, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya.

Distribusi alofon bisa bersifat komplementer dan bebas.


Distribusi komplementer / distribusi saling melengkapi adalah distribusi yang

tempatnya tidak bisa dipertukarkan dan bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan

lingkungan bunyi tertentu.


Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat

abstrak karena fonem hanyalah abstraksi dari alofon itu dan yang konkret atau nyata ada

dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon itulah yang diucapkan.


4.2.3 Klasifikasi Fonem


Kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan criteria yang dipakai untuk

klasifikasi bunyi (fon) dan panamaan fonem juga sama dengan penamaan bunyi.


4.2.4 Khazanah Fonem


adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang

dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.jumlah

fonem bahasa Indonesia ada 24 buah, terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i. u, e, ∂, dan o)

dan 18 fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l, w, dan z).


4.2.5 Perubahan Fonem


Sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada

fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fonem bersifat

fonetis, tidak mengubah fonem itu menjadi fonem lain.


Beberapa kasus perubahan finem antara lain :


4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi


Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain

sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu sama

atau mempunyai cirri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Dalam proses disimilasi, perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama

menjadi berbeda atau berlainan.


4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal


Umlaut = perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal iti diubah menjadi

vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut = perubahan vokal yang kita temikan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman

untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki yang

berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel

yang menyusul


4.2.5.4 Kontraksi


adalah hilangnya sebuah fonem atau lebih yang menjadi satu segmen dengan

pelafalannya sendiri-sendiri.


4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis


Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan

lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.


4.2.6 Fonem dan Grafem


1. Grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah foe\nem yang berbeda,

yaitu fonem /e/ dan fonem /∂/.

2. Grafem p selain dipakai untuk melambangkan fonem /p/, juga dipakai untuk

melambangkan fonem /b/ untuk alofon /p/.

3. Grafem v digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ pada beberapa kata

tertentu.

4. Grafem t selain digunakan untuk melambangkan fonem /t/ digunakan juga

untuk melambangkan fonem /d/ untuk alofon /t/.

5. Grafem k selain digunakan untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga

untuk melambangkan fonem /g/ untuk alofon /k/ yang biasanya berada pada

posisi akhir.

6. Grafem n selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ digunakan juga

untuk melambangkan posisi /n/ pada posisi di muka konsonan /j/ dan /c/.

7. Gabungan grafem maih digunakan : ng untuk fonem /η/; ny untuk fonem /n/;

kh untuk fonem /x/; dan sy untuk fonem /∫/.

8. Bunyi glottal stop diperhitungkan senagai alofon dari fonem /k/; jadi,

dilambangjan dengan grafem k.


0 komentar:

Poskan Komentar

ayo komen apa saja

wajib dibaca

  • Rencana Tuhan - Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan merencanakan hidup kita. Yang jelas, Tuhan tidak akan memberikan sesuatu kepada manusia kalau manusia itu tidak san...
    10 bulan yang lalu
 
Copyright prodi bahasa kelas a © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.